Kompilasi dari t.me Minggu Ini
MENOLAK REZEKI (PENGHASILAN)
Beberapa hari yang lalu, di hari pertama tahun 2020, saya berencana pergi ke Big Mall. Sebuah mall langganan saya, karena memang secara jarak juga dekat dari tempat tinggal saya.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 WITA. Saya memutuskan berangkat agak pagi, karena berencana makan siang dulu, sebelum lanjut nonton di XXI. Ya sudah, pencet-pencet deh aplikasi taxi onlinenya.
Selang tak lama kemudian, dapet 1 driver. Beberapa detik kemudian si driver telpon dan bilang, “Pak, nanti saya anternya di luar aja ya. Ngga usah masuk ke dalam mallnya.”
Saya pun menjawab sekaligus bertanya, “Lho kenapa Pak? Nanti uang parkirnya saya yang bayar. Bapak ngga usah khawatir.”
Driver membalas lagi, “Bukan uang parkirnya Pak. Tapi mall lagi macet parah Pak, masuk dan keluarnya. Bisa kejebak 2 jam-an saya kalau masuk area mall.”
Saya kemudian berpikir cepat. Terasa ada yang ngga masuk akal dengan ucapan si Driver ini.
Tanggal 1 Januari, memang libur. Tapi malam sebelumnya, mayoritas pada begadangan. Otomatis, bangunnya juga siangan. Maka paling tidak, mall itu baru akan ramai minimal jelang jam 12 siang. Bahkan bisa jadi jam 1 atau 2, orang masuk mall.
Ah, males aja ini orang. Akhirnya karena saya udah ilfil duluan saya bilang, “Ya sudah Pak, kalau ngga mau, saya cancel aja.” Kebetulan juga jarak dari luar (tempat dia mau ngedrop saya) ke dalam mall lumayan agak jauh. Saya juga agak males jalan jauh panas-panas.
Begitu saya tiba di mall dengan driver lainnya, betul ternyata analisis saya. Jalan masuk mall lapang banget. Ngga ada tuh, kemacetan yang diceritakan sebagai alasan tadi.
Saya langsung KASIHAN sama orang driver pertama tadi. Karena orang ini memilih untuk MENOLAK REZEKI, khususnya berkaitan dengan sumber penghasilan.
Rasa malas melayani, yang diikuti dengan berbagai alasan sebagai pembenaran, itu seperti kita memberikan pesan pada sistem rezeki:
“Maaf, saya ngga suka melakukan pekerjaan ini. Tolong jangan diberi terlalu banyak. Kalau perlu, jarang ngga apa-apa.”
Padahal mau itu besar atau kecil, rezeki kudu disyukuri. Kalau yang kecil saja enggan bersyukur, gimana yang besar mau datang?
Kedua, rezeki (khususnya yang berkenaan dengan penghasilan), umumnya selalu datang lewat pekerjaan / profesi yang menghasilkan. Jika menyiapkan perantaranya saja kita asal-asalan, gimana mau dateng? Masa iya, ngarep jatuh peti berisi emas / uang dari langit di depan pintu rumah kita.
Kejadian ini, lantas membuat saya merenung kembali. Saya mulai memilah-milah. Dari semua sumber penghasilan yang saya bangun, mana yang mulai slow? Kemudian, apakah di situ saya ada rasa malas ketika menjalani prosesnya?
Ternyata, IYA! Semua itu berhubungan. Yang celetukan rasa malas di hati, walau sedikit, lambat laun berkurang pemasukannya dari situ.
Ini pengalaman saya sih. Mungkin Anda punya pengalaman serupa yang bisa dibagikan di kolom komentar. Atau barangkali ada pendapat lain, silahkan.
“Mas, saya belum punya produk. Apa bisa, ikutan kelas Riset Online & Social Media Marketingnya Mas Arief?” tanya calon peserta kelas riset saya.
Saya jawab, “Bisa! Justru di kelas itu nanti, Masnya bakal ketemu mereka-mereka yang sudah punya produk untuk dijual melalui media sosial.”
Percakapan ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat saya masih aktif membuka kelas bertema "Riset Online & Social Media Marketing".
Meski sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, namun esensinya tetap sama. Yaitu dalam forum bertema bisnis yang pesertanya campuran (bukan in house training), apapun judulnya, selalu ada peluang-peluang yang ikut hadir di dalamnya.
Mereka yang punya produk, inilah kesempatan untuk memperkenalkan produknya, meskipun tidak secara resmi dari atas panggung. Bisa jadi sponsor, ikutan buka stand pameran, atau bisa promosi ONE ON ONE dengan peserta.
Bagi yang belum punya produk, inilah kesempatan untuk mencari produk mana yang pas untuk dijual. Yang potensi lakunya bagus, berkualitas, serta prospek ke depannya masih bagus juga.
Maka begitu pulalah event “GATHERING NASIONAL COVERT SELLING” pada Bulan Maret 2020 di Jogja besok.
Akan hadir di sana ribuan peserta dari berbagai penjuru Indonesia, baik itu para supplier produk maupun para pemburu supplier. Ada potensi untuk terjalin relasi kerjasama bisnis yang baik antar pemilik produk dan pemasar produk.
Maka dari itu, bagi yang nanti ikutan hadir di sana, siapkan sebaik-baiknya amunisi Anda.
Jangan cuma datang untuk belajar saja. Namun bangunlah relasi seluas-luasnya. Bawa kartu nama kalau perlu, untuk saling bertukar satu sama lain.
Saya insya Allah hadir di sana juga, dan mengisi salah satu kelas kecil yang ada di situ.
Semoga kita bisa berjumpa ya.
TIPE-X
Beberapa waktu yang lalu, Mentor saya di Republik Ungu sharing tentang hasil konsultasi dengan Mentor beliau. Kali ini topiknya adalah tentang TIPE-X.
Bicara soal Tipe-X Ingatan saya langsung melayang membawa saya ke masa lalu, kelas 3 SD tepatnya. Masa-masa di mana pertama kalinya saya diperbolehkan oleh guru untuk menggunakan pulpen. Sebelum-sebelumnya ya pake pensil dan penghapus.
Bagi saya saat itu, menggunakan pulpen adalah sebuah tanggung jawab baru yang lebih besar. Beda dengan pensil yang dengan mudahnya dihapus bersih ketika salah tulis, pulpen selalu meninggalkan bekas saat kita salah tulis. Sekalipun itu bisa diperbaiki dengan Tipe-X.
Lama-kelamaan, kehadiran Tipe-X ini pun sudah bagaikan dewa penolong. Seakan menjadi solusi dari kesalahan menulis. Tapi sisi negatifnya adalah saya jadi meremehkan. Dikit-dikit salah, dikit-dikit Tipe-X, begitu seterusnya. Saya jadi TERBIASA MENGULANGI KESALAHAN YANG SAMA lantaran pola pikir, “Ada Tipe-X yang akan membetulkan.”
Semua itu berubah, saat guru saya di kelas 5 SD kerap memarahi murid yang sering salah tulis. Beliau menekankan pada kami untuk memiliki mindset yang tepat, yaitu belajar untuk menimimalisir kesalahan.
Dengan kata lain PUSAT DARI PEMBUAT KESALAHAN (pikiran) YANG DIBENAHI. Sejak itu, saya jadi jarang melakukan kesalahan menulis menggunakan pulpen.
Ternyata di bisnis pun pola pikir Tipe-X ini sering terjadi juga. Coba amati beberapa hal ini:
Tingginya persaingan, sepinya pelanggan, penolakan dari calon konsumen, rebutan reseller, langkanya suplai, dll.
Semua hal yang saya sebutkan di atas, hampir selalu ada di setiap bisnis, apapun itu macamnya.
Uniknya adalah saat kita menghadapi permasalahan di atas, banyak yang kemudian lebih memilih “menggunakan Tipe-X” dengan cara GANTI BISNIS. Dipikirnya hanya dengan mengganti dengan bisnis yang lain, maka semua permasalahan itu akan sirna. Padahal, di BISNIS APAPUN, potensi PERMASALAHANNYA HAMPIR SAMA.
Ketimbang mencoba mengevaluasi, memperbaiki, membenahi, bertahan, sembari belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut, memang lebih mudah untuk beralasan dan kemudian ganti bisnis. Sampai kemudian ketemu permasalahan yang sama, kemudian mentok lagi, ganti bisnis lagi.
Artinya, selama kita tidak membenahi terlebih dahulu cara berpikir kita dalam menghadapi masalah dan bertumbuh dari situ, maka gonta-gonta bisnis tidak akan membuat perubahan apapun. Yang ada kita hanya mengulangi pola gagalnya lagi, lagi dan lagi.
Maka salah satu jalan untuk tumbuh besar adalah bertahan sejenak sembari mencoba menyelesaikan satu persatu permasalahan yang timbul. Sehingga kalau pun akhirnya kita terpaksa ganti bisnis karena bisnis lama sudah tidak bisa diselamatkan lagi, setidaknya kita sudah membawa pengetahuan yang baru, pengalaman yang baru, serta kerangka berpikir yang baru.
Dengan demikian, kesalahan yang sama bisa kita minimalisir di bisnis yang baru.
Makin benarlah apa yang yang diajarkan oleh para guru dan mentor bisnis saya bahwasanya besar kecilnya bisnis akan selalu diawali dari mindset yang benar.
Selama mindsetnya masih belum pas, maka yang ada adalah setiap aktivitas bisnis kita akan kita sabotase sendiri, tanpa kita sadari. Jadi kalau kita sering gagal, sebelum menyalahkan faktor eksternal, coba merenung. Jangan-jangan kita sendirilah yang suka menyabotase sukses kita.
Semoga bermanfaat.
Pagi tadi, ketika sedang duduk di Waiting Room dan menunggu jadwal terbang ke Tarakan, saya membuka beberapa Channel Telegram langganan saya untuk mencari insight yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Scroll… scroll… scroll… akhirnya saya mendapati apa yang saya cari. Sebuah sharing dari salah satu sosok miliuner bahkan triliuner malahan, tentang MINDSET KEMAKMURAN.
Menurut sharing beliau, setidaknya ada 3 hal yang menunjang untuk kita bisa menjadi makmur. Saya coba tuliskan ulang dari sudut pandang dan pengalaman saya pribadi ya.
PERTAMA, yang tidak bisa ditolerir adalah IMPIAN atau gambaran sukses yang kita mau seperti apa. Dan ini bukan sekedar impian palsu, melainkan harus mampu menggetarkan jiwa, mengusik sisi emosional kita, memiliki alasan sangat kuat, bahkan mempengaruhi kehidupan kita jika itu tidak terwujud. Sehingga bisa menjadi bahan bakar yang tiada habisnya.
Jika masih ada keluhan rasa malas, bosan, mood-moodan dalam mengerjakan hal yang sebenarnya adalah bagian dari proses perjalanan suksesnya, maka biasanya orang tersebut belum benar-benar punya impian.
Jika diibaratkan harus bepergian ke suatu kota, tujuannya saja belum jelas, lantas bagaimana menyusun rencana perjalanannya? Ya hotelnya, ya transportnya, ya proses perjalanannya.
KEDUA, miliki yang namanya PROFESI. Profesi itu pekerjaan, apapun jenis dan bentuknya, yang ketika dilakukan bisa memberikan kita penghasilan. Mau itu bisnis, jadi pembantu, jadi karyawan, jadi tukang becak, atau apapun bentuknya, yang ketika kita kerjakan ada imbalannya.
KETIGA, miliki KETERAMPILAN / KEAHLIAN. Jadi profesi tidak sekedar profesi, melainkan butuh menjadi ahli pada profesi tersebut. Konon dalam sebuah buku disebutkan bahwa untuk menjadi ahli, kita mesti melakukan keahlian atau keterampilan tersebut selama minimal 10.000 jam.
Impiannya jelas sehingga “bahan bakarnya” tidak pernah habis. Pintu tempat masuknya duit juga ada, yaitu profesi. Dan terakhir, magnet rezekinya juga ada, yaitu keahlian 10.000 jam ini.
Mau percaya atau tidak, urusan masing-masing. Kalau dari pengalaman saya terjun di dunia Covert Selling, belum sampai 10.000 jam berlatih saja, duitnya sudah berdatangan lewat pintu profesi Licensed Trainer Covert Selling. Ngga kebayang ketika terus berlatih dan melampaui 10.000 jam ini.
Semoga bermanfaat.
Semalam saya dicurhati salah satu alumni kelas covert selling tentang perubahan sistem penjualan di dalam bisnisnya. Ceritanya berdasarkan hasil evaluasi, sekaligus mengawali di tahun yang baru, dia pengen memperbarui pula aturan main penjualan di timnya.
Di mana-mana, namanya perubahan sistem tentu akan selalu ada pro dan kontranya. Padahal, boleh jadi perubahan itu memang untuk tujuan yang lebih baik. Benar saja, ngga lama setelah perubahan itu diumumkan, ada yang protes kecil-kecilan dan lantaran tidak bisa menerima aturan main yang baru itu.
“Your business, your rules!”
Begitu pesan saya padanya. Jika memang kenyataannya harus mengubah sistem, ya ubah saja. Demi kebaikan bisnisnya sendiri.
Memang, dengan adanya perubahan ini ada resiko-resiko seperti di bawah ini:
- Ditinggalkan oleh tim yang tidak setuju.
- Tim yang masih bertahan, mulai kendor pergerakannya.
- Performa tim secara keseluruhan menurun dan omset kendor.
- Harus rekrut tim baru lagi, dll.
Ya, itulah salah satu obat pahit yang harus diminum untuk menyehatkan bisnisnya. Seperti kata salah satu guru saya, “Kalau kita dikit-dikit kasihan dan ngga enakan sama tim kita, maka kita ngga kasihan sama bisnis yang sedang kita bangun.”
Jadi tetapkan saja aturan barunya, tentunya yang sudah dipertimbangkan dan diperhitungkan secara matang, kemudian sampaikan dengan baik pada timnya.
Kalaupun nanti akhirnya banyak yang menyerah, tidak beradaptasi, bahkan memilih untuk keluar, ya mau gimana lagi. Di situlah seleksi alam terjadi. Siapa yang loyal dan siap berbenah dan berubah jadi lebih baik lagi pasti akan bertahan dan mencoba beradaptasi dengan sistem baru. Toh ngga dilepas sama sekali juga.
Jadi ngga usah galau, ngga usah baper! Penting bagi pebisnis itu untuk tetap bisa berpikir logis dalam mengambil keputusan. Tentunya juga tidak melupakan sisi humanisnya ya.
Comments
Post a Comment